Rabu, 11 Juli 2018

Catatan Kecil Dari Sunyine Salaka



Hargai masa lalu, benahi masa kini, tata masa depan 
Waktu adalah kontinum. Quraish Shihab menyebutnya "seluruh rangkaian yang telah berlalu, sekarang dan yang datang".

Generasi sekarang umpama manusia yang berdiri di titik tengah dari rangkain waktu yang panjang itu. Di tempat dia berdiri. Pada titik atau ruang dan waktu yang disebut "sekarang" atau era kekinian, rangkaian masa lalu hanya bisa diketahuinya melalui catatan sejarah, dan masa depan hanya mungkin diperkirakannya dengan kapasitas imajinasi, pengetahuan, keakuratan asumsi dan kecermatan kalkulatif-prediktif.

Jika dia tidak bersungguh-sunggih membaca rangkaian masa lalu, maka mustahil dia memiliki pengetahuan memadai tentang yang telah dicapai dan cara mencapai oleh leluhurnya, yang bisa dijadikankannya rujukan menjawab permasalahan kekinian, juga inspirasi bagi masa depannya. Dia pun mustahil mengetahui kelemahan atau kegagalan leluhurnya di masa lalu yang tidak boleh lagi dia lakukan sekarang dan nanti.

Sayangnya, masih saja ada generasi sejarang yang bertanya dengan agak konyol, "Apa pentingnya menghargai sejarah lalu, pencapaian dan prestasi leluhur dan pemimpin di masa lalu? Padahal, sehebat apapun generasi kekinian, tiada seorang atau satu komunitas manapun juga yang secara otomatis dan begitu saja mampu menciptakan karya-karya kebudayaan seperti yang ada sekarang. Tak satupun generasi tercerdas dan termaju pengetahuannya sekalipun mampu secara otomatis dan begitu saja merumuskan tata nilai dan norma, menata sistem sosial yang disebut baik, kecuali mereka mempelajari, meniru, mengembangkan, mengubahsuaikan yang telah disusun, dipergunakan oleh generasi sebelumnya.

Sejarah budaya dan tradisi leluhur, kata  Sztompka (2008), telah menyediakan blog-blog sehingga mudah diisi oleh generasi sekarang untuk peri kehidupannya, menjawab permasalahan yang dihadapi, sekaligus berikhtiar untuk masa depan. Tradisi adalah "cetak biru" yang disesain para pendahulu untuk generasi kini, yang meliputi seluruh aspek dan dimensi kehidupan.

Kaitan itu, kita patut memperhatikan yang dingatkan oleh Yudi Latif, "sebagian besar dari ketidakmampuan generasi sekarang memacahkan masalah-masalah yang dihadapi disebabkan oleh kegagalan mereka mempelajari kebaikan-kebaikan dari masa lalu".

Di titk inilah dialektika sejarah dan kebudayaaan harus dicermati. Sebab ia merupakan spektrum dialektika kompleks yang menuntut kemampuan belajar, menafsir, merekonstruksi, dan kemampuan mentransformasikan apa yang disebut sebagai kebaikan dan pencapaian masa lalu ke dalam spektrum dinamika kebudayaan masa kini.

Hal itu kian relevan dan mendesak bila ruang budaya masa kini mulai terasa pengap, tak ramah terhadap spiritualitas dan humanitas, tak efektif lagi mendorong gerak budaya ke arah peradaban masa depan kemanusiaan.

Merujuk pandangan Arnold Toynbee (2004) dan Fritjof Capra (2014), ketiadaan generasi suatu komunitas mempelajari budaya, dan ketidakmampuannya menafsir, merekonstruksi, mentransformasi kebudayaan, mengakibatkan kebudayaan luhur yang diwarisinya lekas mengalami involusi, kehilangan elemen fleksibilitasnya, berkurang vitalitasnya, dan semakin menurun daya dorongnya sebagai kekuatan pengarah dan pengubah, kemudian berangsur memasuki fase titik balik.

Menalari uraian juga tesis yang ada, baiknya kita memulai dengan beberapa pertanyaan sederhana, berdasarkan pengamatan atas realitas sehari-hari di sekitar kita, kita sebagai bangsa, dan sebagai entitas yang mengklaim diri masayarakat adat, masyarakat pewaris kebudayaan agung leluhur, masyarakat religius dan spiritual, dan berragam klaim "kabasarang" lainnya.

Dari manakah watak bebal, jumawa, minim empati, jarang mengayomi, suka terabas, koruptif dan watak destruktif lainnya, yang menggejala kuat di kalangan para aktor dan pemimpin politik formal kita?

Darimanakah watak kasar, intoleran, kurang solider dan kebiasaan kerjasama yang makin tergerus, yang kini mulai menggejala di tengah-tengah masyarakat kita? Bagaimanakah kita boleh dicap sebagai komunitas dengan etos rendah dalam hal produktifitas, prestasi dan kepeloporan?

Adakah nila-nilai budaya luhur kita mengajarkan hal seperti itu? Atau, kita memang jarang bahkan tidak lagi mempelajari nilai-nilai budaya leluhur, sementara lebih suka merujuk nilai-nilai budaya dari bangsa lain yang berbeda akar falsafah dan dan orientasinya, yang belum teruji kedigjayaannya.


Mari Pulang, belajar dan menghayati.

"Jika pergi makin menjauhkanmu dari nilai esensial pembentuk jatidiri, maka pulang adalah pergi yang sejati", begitu simpulan saya yang awam, dan tentu sangat terbuka untuk dikritisi.

Itulah juga antara lain intisari hasil diskursus selama dua-tiga tahun di internal Generasi Muda Sultan Nuku (Garda Nuku), juga fokus grup diskusi maupun diskusi publik yang melibatkan beberapa pakar dan pemerhati. Simpulannya, "kita telah jauh menggauli nilai yang bukan dari leluhur kita, bersamaan itu lebih jauh lagi meninggalkan nilai-nilai luhur, warisan kita yang mumpuni".

Dari sana Nuku World Festival (NWF) disepakati menjadi sarana mengangkat hal-hal penting dalam tradisi dan budaya agar menjadi menarik. NWF, selain wujud pengakuan kiprah Sultan Nuku Amirudidin yang mendunia, juga terutama bertujuan mengangkat dan memperkenalkan pandangan dunia Jou Barakati yang syarat nilai.

Kita, generasi sekarang, memang mesti segera pulang, belajar saksama dan menghayati spirit nilai yang mengokohkan tekad, visi dan keberhasilan perjuangan Sultan Nuku. 

Peserta lomba bercerita tentang Sultan Nuku Jou Barakati, NWF 3017

Kami pulang ke tanah asal yang lengang.

Tahun 2016 yang lalu, Haul Sultan Nuku ke 211 dan festival Nuku dilaksanakan di Ternate dan banyak yang bertanya, "kenapa bukan di Tidore?

Sejak awal pun kami berencana melaksanakannya di Tidore, sebagaimana visi dan misi Garda Nuku, menjadi komponen strategis kaum muda Tidore yang dapat berpartisipasi mendukung pihak kesultanan dan pemerintah daerah mengangkat, mempromosikan dan melestarikan adat tradisi leluhur. Tetapi lantaran beberapa kelemahan atau kendala teknis, dengan sangat menyesal, Haul Sultan Nuku dan NWF 2016 lalu, urung dilaksanakan di Tidore.

Betapa kegiatan multi konten yang melibatkan banyak komponen dengan banyak personil pula, pasti sulit dilaksanakan tanpa dukungan atau dengan dukungan yang alakadar dan bahkan basa-basi. Dukungan dimaskud, terutama dukungan koordinatif dengan komunitas dan komponen yang dilibatkan dalam setiap item kegiatan, juga dukungan fasilitas tentu saja.

Tanpa "kepastian dukungan", apalagi "pasti tidak mendukung", bagaimana mungkin komunitas atau paguyuban seperti Garda Nuku mampu melaksanakan kegiatan yang membutuhkan biaya besar yang sebenarnya dapat dikompensasikan dengan dukungan fasilitas maupun dukungan koordinasi yang efektif dengan para pihak.

Alhamdulillah, tahun ini, pada Haul Sultan Nuku ke 212 dan NWF 2017, dengan persiapan ekstra kami berketetapan hati melakasanakannya di Tidore, di Tanah kelahiran dan kewafatan Sultan Nuku Jou Barakati, di tanah dodomi sebagian besar pembina, pimpinan dan pengurus Garda Nuku.

Tentu saja pantas jika kami berharap, hajatan Haul Sultan Nuku ke 212 dan NWF 2017 yang dilaksanakan di Tidore niscaya mendapat dukungan maksimal sekurangnya dukungan yang pantas. 
Tetapi kenyataannya jauh panggang dari api, jauh pula harapan dari kenyataan.

Suara-suara sumbang dari saudara-saudara di Tidore yang tahun lalu, menggugat Tagline "Beta Pulang" dengan penegasan seharusnya "Pulang Ke Tidore", ke tanah kelahiran dan kewafatan Sultan Nuku, tanah leluhur yang dicintai, dibela dan dijaga oleh Jou Barakati sepanjang hayatnya, maka tahun ini kami sungguh "pulang", tetapi sayang tak sempat berjumpa dengan saudara-saudara, pemilik  suara-suara sumbang itu. Tabea, "Tong so pulang, kong ngoni di mana? Pi mana?

Tetapi kami menyadari, kerja-kerja kebudayaan, bukanlah kerja yang mudah. Tidak semua orang yang bagus bicaranya bagus pula sikapnya. Tidak semua orang yang tampak antusias akan antusias pula bahu membahu, dan mendukung kerja-kerja kebudayaan.

Tetapi Alhamdulillah kami sangat bersyukur kepada Allah SWT, Haul Sultan Nuku ke 212 dan rangkaiannya dapat kami laksanakan di Tidore. Kami juga berterima kasih kepada beberapa perkembangan baik, hasil dari koordinasi antara Jou Sultan Tidore dengan Walikota Tidore Kepulauan, sehingga dikeluarkan surat edaran Walikota, mengimbau imam, syara dan jamaah semua masjid dan mushollah membaca tahlil mendo'akan almarhum Sultan Nuku, di malam 14 November, tanggal wafatnya Sultan Nuku. 

Syukur dofu, terima kasih juga patut kami sampaikan kepada Jou Sultan Tidore, H. Husain Syah atas nasihat, bimbingan dan dukungannya yang besar. Juga kepada Walikota dan Wakil Walikota Tidore Kepulauan atas dukungannya melalui beberapa pimpinan SKPD, seperti Bappelitbang, Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan, yang mempelancar beberapa kegiatan kami.

Bagi kami dukungan dan bantuan punya nilai dan makna yang besar. Tidak bisa dilihat dari besar kecilnya tetapi dari niat baik dan esensinya. Oleh karenanya atas nama pribadi, ketua dan atas nama pengurus Garda Nuku kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya.

Semoga perhatian, dukungan koordinasi seperti ini lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang sehingga kita dapat lebih maksimal memanfaatkan monuntum Haul Sultan Nyku dan perhelatan Nuku World Festival ini, untuk peneladanan nilai kejuangan Sultan Nuku Jou Barakati, pelestarian adat tradisi dan kearifan, serta promosikan daerah melalui iven dan atraksi yang dapat mendukung kepariwisataaan daerah.

Nange re ua si fio yali. Ngone ua si nage yali, semoga tak sekadar pengias pidato dalam upacara, atau pemanis narasi dalam buklet promosi pawisata daerah.

Sofyan Daud
Garasi Genta, 27 September 2017

Selasa, 09 Mei 2017

Kaicil Rade, Pangeran Besar Tidore Yang Kurang Dikenal



Kadato Kie. Keraton kesultanan Tidore di Sunyine Salaka (Taman Perak), Kampung Soasio. Foto: Sofyan Daud, 12 April 2017


Kaicil atau Kaicili, sebutan untuk putra Sultan atau pangeran pada kesultanan-kesultanan di Maluku; Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo.
Kaicil Rade, pangeran dari Tidore yang bijaksana dan teguh pendiriannya. Pernah menjadi Kapita Lau (menteri pertahanan, panglima perang) Kesultanan Tidore semasa kepemimpinan Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnnaen, adiknya sendiri.
Saat ayahanda mereka Sultan Al Mansyur mangkat 1526, tiga tahun kemudian, pada 1529, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen terpilih dan dinobatkan sebagai sultan menggantikan mendiang ayahandanya.
Saat penobatannya usia Iskandar Zulkarnaen masih remaja sehingga kakaknya Kaicil Rade dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan sampai sultan Iskandar dewasa dan efektif melaksanakan amanah kepemimpinannya.
Sebagai Waliraja, Kapita Lau sekaligus pangeran yang lebih tua, Rade memiliki kekuasaan hampir mutlak atas kesultanan ini. Jika dia menghendaki niscaya mudah baginya mengambil alih tahta, tetapi hal itu tak terlintas sedikitpun di benaknya. Rade merasa cukup dengan amanah yang dipercayakan kepadanya, sebagai Kapita lau dan Waliraja.
Bijaksana, tawadduh dan istiqomah adalah karakter kepribadian Kaicil Rade yang menjadikannya penuh ketahudirian dan kesadardirian. Dia tak merasa rendah mengabdi pada kesultanan yang dipimpin adiknya yang terpaut usia jauh di bawahnya.
Rade menghormati Iskandar Zulkarnaen sebagai sultan dan menghormati amanah kepemimpinan yang dipundaki adiknya, juga menghormati amanah yang dipercayakan padanya. Kedua-duanya ditempatkan sama tinggi dengan rasa hormatnya akan marwah negeri, martabat rakyat, serta martabat dan kehormatan dirinya sendiri.
Kaicil Rade, pribadi mulia dan pemimpin berreputasi tinggi. Sayangnya, lembaran sejarah nasional tak sempat mencatatnya secara pantas. Kalangan sejarawan daerah pun belum banyak yang tertarik meneliti dan menulisnya. Itulah mengapa nama dan kiprahnya jarang diketahui khalayak di Maluku Utara bahkan di Tidore, tanah asal sang kaicil sekalipun.

TRAKTAT SARAGOSA DAN KRISIS MALUKU
Periode kepemimpinan Iskandar Zulkarnaen, 1529-1547 bersama Rade yang setia menyokong dan mendampinginya, dimulai dalam tahun yang sama dengan perjanjian Saragosa 25 April 1529, perjanjian antara Raja John III dari Portugis  dengan Raja Charles V dari Spanyol yang dimediasi oleh Vatikan untuk meratifikasi perjanjian Tordesillas, 7 Juni 1494. Perjanjian yang tentunya memengaruhi konstalasi global, karena Portugis dan Spanyol saat itu adalah dua negara adidaya.
Pasca perjanjian, Spanyol meninggalkan Tidore dan seluruh wilayah Maluku ke Pilipina dengan kompensasi 350.000 Ducats.
Sepeninggal Spanyol, Portugis yang sejak dekade sebelumnya telah memantapkan posisinya atas Ternate, menjadi semakin kuat. Sebagai satu-satunya kekuatan Eropa di pulau-pulau utama penghasil cengkeh dan pala sekaligus pusat-pusat kesultanan tersohor di Timur Nusantara, Portugis pun kian memantapkan dominasinya melalui pelbagai upaya subordinasi Ternate yang lantas memunculkan pelbagai ketegangan dan konflik.
Kawasan Maluku terdesak memasuki dekade krisis dan konflik akibat intrik dan peperangan yang dialakukan para Gubernur Portugis di Maluku yang berkedudukan di Gamlamo, ibukota Ternate, sejak periode gubernur Antonio De Brito, 1522-1525, Henriquez, 1525-1527, Jorge de Menezes, 1527-1530, Gonzalo Pereira, 1530-1532, Vincente De Fonceca, 1532-1534, dan memuncak pada periode Tristao De Ataide, 1534-1537.
Puncak krisis terjadi saat sultan Ternate, Bayan Sirullah alias Bayanulllah wafat 1522, dalam periode gubernur De Brito. Hidayat (Deyallo) dan Boheyat (Bochiat), dua putra Bayanullah yang masih belia dinobatkan sebagai sultan, berturut-turut Hidayat, 1522-1529 dan Boheyat, 1529-1532.
Dalam kurun ini,  Boki (ratu, permasiuri) Nukila, istri mendiang Bayanullah, yang adalah putri Al Mansyur, yang juga adalah saudari kandung Kaicil Rade dan Iskandar Zulkarnaen, dipercayakan sebagai Mangkubumi atau Waliraja, mengendalikan kesultanan Ternate sampai putranya dewasa dan efektif mengemban amanah kepemimpinannya.
Dari 1522 sampai 1537, masa 15 tahun paling kelam dalam sejarah Ternate. Intrik Portugis menembus dinding istana. Kepentingan politik dagang dan misi penyiaran agama yang dianut Portugis bertemu ambisi segelintir elit kesultanan.
Sultan muda Hidayat dan Boheyat mangkat mengenaskan di tangan besi Portugis. Tabariji naik tahta 1532-1535, lalu dia bersama Boki Nukila dan Pattisarangi dipecundangi,  ditangkap dan diasingkan ke Goa, India.
Di lain sisi misi pengabaran injil di wilayah Halmahera, juga tak bebas konflik dan peperangan. Portugis mengeksploitasi misi suci itu untuk menggalang dukungan dan loyalitas komunitas-komunitas di sana yang telah berhasil dikristenkan. Tujuannya mendelegitimasi bahkan melawan kesultanan Ternate. Sikap itu dinilai sebagai kelicikan, sebab Sultan Ternate menghormati dan telah memberi izin misi suci tersebut.
Dari latar dan konstelasi politik regional demikian, Iskandar Zulkarnaen yang belia tampil sebagai sultan di Tidore, satu-satunya kesultanan yang menjadi tumpuan Maluku (Moloku Kie Raha) kurun itu, ketika kesultanan Ternate sebagai salah satu yang terkuat sedang dirudung krisis yang pelik.
Di situlah Waliraja sekaligus Kapita Lau, Kaicil Rade, menunjukkan kualitas dan kapasitas kepemimpinannya. Dia tak hanya menentukan stabilitas kesultanan Tidore, tetapi juga menentukan eksisitensi seluruh wilayah Maluku, khususnya kelanggengan cita-cita bersama Moloku Kie Raha yang dicetuskan dalam Motir Staten Verbond, 1322.
Sejarah mencatat bagaimana Tidore di bawah kendali Kaicil Rade memberikan perlindungan kepada sultan Boheyat yang dimakzulkan dan kemudian diburu oleh Portugis.
Serangkaian peristiwa besar dan menentukan terjadi dalam periode Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen bersama Kicil Rade sebagai Kapita Lau-nya.

Tampak belakang Kadato Kie, foto dari Benteng. Foto: Sofyan Daud, 10 Januari 2017


GUBERNUR GALVAO DAN KAICIL RADE
Dokumen tertulis tentang Rade yang memang sangat minim, sejauh yang diketahui, bersumber dari catatan Antonio Galvao, Gubernur Portugis Maluku di Ternate, 1537-1540. Catatan-catatan yang kemudian dibukukan dalam “Historia Das Mollucas”.
Galvao di dalam catatanya mengungkapkan kekagumannya pada Kaicil Rade yang cerdas, bijaksana dan santun. Adnan Amal dalam “Kepulauan rempah-rempah”, sembari merujuk “Historia Das Mollucas”,  menyebutkan, orang-orang Portugis memuji watak dan kepribadian Kaical Rade sebagai “seorang pria berwibawa dan berprilaku paling santun”.
Gubernur Galvao, memang diutus Portugis ke Ternate karena prestasinya. Tugas utamanya memulihkan krisis hubungan Portugis dengan kesultanan Ternate dan kesultanan Maluku lainnya yang telah mengakibatkan anjloknya perdagangan rempah Portugis.
Meskipun begitu, kedatangan Galvao ke Benteng Nuestra Senhora Del Rosario di Gamlamo disambut sikap mawas yang tinggi bahkan kekuatiran, jangan-jangan Galvao akan berperangai sama dengan gubernur sebelumnya, pemicu kekacauan, peperangan, pengasingan, penabur petaka.
Keempat sultan Maluku pun mengadakan pertemuan di Tidore membahas antisipasi kehadiran Galvao dan kemungkinan buruk ulahnya sebagaimana ulah pendahulunya Ataide.
Memahami situasi itu, Galvao sepertinya menerapkan ujaran, “jika ingin damai mulailah perang”, dia lalu mengkonsolidasi pasukan berkekuatan penuh menyerang Tidore.
Dalam catatanya, Galvao menyebutkan peperangan 21 Desember 1536 itu meluluhlantahkan beberapa kampung di Tidore. Portugis bahkan berhasil mendarat di Pulau Tidore.
Singkat cerita, Sultan Tidore mengirim kurir menyampaikan tawaran perundingan damai. Galvao menerimanya dengan catatan, Sultan harus mengirim seorang pejabat resmi, bukan seorang kurir.
Di suatu pagi cerah antara Desember 1536 atau Januari 1537, Galvao menyeberang dari Ternate ke Tidore bersama beberapa pengawalnya, langsung menuju ke lokasi pertemuan di Seli. Tiba di Seli, Galvao sudah ditunggu oleh Kaicil Rade dan beberapa pengawalnya.
Kepada Rade Galvao mengatakan, agar perundingan mereka lancar dia menawarkan seorang penerjemah, tetapi Kaicil Rade menolak sembari mengatakan dia dapat menggunakan bahasa Galvao dengan baik.
Galvao membuka percakapan basa-basi, bahwa dia tahu Kaicil Rade bijaksana dan beprilaku sangat santun, juga seorang panglima perang yang handal.
“Sir Kaicil Rade. Saya tahu bahwa Anda adalah seorang laki-laki bermartabat tinggi dan terhormat, dan sebagai tambahan bagi kemuliaan derajat Anda, Anda terkenal sebagai yang paling adil dan baik hati di negeri ini. Selama ini Anda menjadi komandan tertinggi melawan Portugis seperti terlihat oleh beragamnya tanda yang Anda kenakan dan oleh keberanian Anda yang luar biasa....”.
Demikian sederet pengakuan dibumbui pujian dari Galvao, sembari menyelipkan misi, layaknya misi kolonial untuk “memecah belah” kekuatan Tidore. Galvao mengatakan, dengan kapasitas dan kredibilitas Kaicil Rade, tak ada yang lebih pantas memimpin kesultanan Tidore kecuali dia dan Galvao atas nama Raja Portugis merestui itu.
Tetapi Kaicil Rade menolak tawaran atau lebih pantas disebut bujukan itu; “Tuan Gubernur, Saya menganggap pujian Anda dan pemerintahan yang Anda janjikan sebagai pujian. Tetapi, bagaimana Anda bisa berharap saya menerima tawaran yang bertolak belakang dengan kewajiban dan kehormatan Saya? Apa kata orang jika mendengar hal ini? Untuk apa saya yang datang untuk membuat kesepakatan antara anda dengan saudara Saya, meminta kepada Anda apa yang menjadi haknya? Dengan cara macam itu saya akan kehilangan semuanya, apa yang saya capai dalam waktu begitu lama, melalui keserakahan sesaat. Akan terkutuklah pemerintahan yang berdasarkan pada hilangnya apa yang telah dicapai dengan segala daya upaya, untuk dunia ini dan dunia mendatang. Saya telah mengikhlaskan diri saya dalam posisi seorang budak bagi saudara kandung saya dan saya tidak akan mengizinkan aib menimpa saya dan keturunan saya”.
Demikian Kaicil Rade dengan kebijaksanaan dan kebesaran jiwanya, teguh dalam pendirian dan istiqomah dalam amanah yang dipercayakan. 
Tidore, Maluku Utara dan Indonesia, barangkali mesti mengambil pelajaran dan inspirasi dari kisah ringkas kebijakasanaan Kaicil Rade ini.
Tidore pun mesti berterima kasih kepada Galvao, sebab berutang kebaikan padanya, yang sudi mencatat kesan dan peristiwa pertemuannya dengan Kaicil Rade. Catatan yang walapun sedikit, dapat menjadi setitik api bagi generasi kini dan nanti.(msd)

Sofyan Daud
Garasi Genta, Ternate, 2 Februari 2017.

Selasa, 28 Maret 2017

Indonesia menulis Tidore, Tidore untuk Indonesia



Pelangi di punggung Tidore. Foto Sofyan Daud, 2 September 2013

Rangkaian harijadi Tidore ke 909 tahun 2017 diawali dengan lomba menulis blog “Tidore Untuk Indonesia” yang diprakarsai komunitas Fola Barakati, dengan tim kecilnya Ngofa Tidore (Anak Tidore). 
Luar biasanya, di dalam Ngofa Tidore ini bergabung mereka yang tak bertalian darah atau sejarah secuilpun dengan Tidore, selain teranting semangat dan semacam perasaan jatuh cinta yang hampir tak terelakkan pada Tidore; sejarah, khasanah budaya dan karunia pesona alamnya. Mereka bukan partisipan melainkan personil inti yang terlibat mendesain konsep dan sebagainya.
Untuk pertama kalinya kegiatan pembuka harijadi Tidore diprakarsai oleh komunitas, bukan oleh institusi “pelat merah”. Ini seakan menandai munculnya kesadaran di kalangan elit Tidore bahwa upaya pelestarian tradisi dan pembangunan kepariwisataan akan efektif bila didukung peranserta masyarakat, terutama komunitas atau kelembagaan masyarakat yang terkait.
Gathering dan launching itu dihelat murah meriah, tidak di ballroom megah tetapi konsepnya dipersiapkan secara baik dan melibatkan pihak berkompiten, seakan rekomendasi tentang alternatif yang patut dipilih ketimbang kegiatan yang pernah dihelat tahun-tahun sebelumnya yang cenderung formalistis dan kurang memerhatikan target pun sasarannya.
Sejak hari itu, Minggu 12 Februari 2017, “Tidore untuk Indonesia” dan seruan Visit Tidore perlahan menarik perhatian blogger setelah ia menghiasi halaman beberapa media massa terlebih menjalari jejaring media sosial.
"Tidore Untuk Indonesia” pun seolah mengalami efek "pembelahan diri” berkembang menjadi dua subtema yang saling memperkuat; “Indonesia menulis Tidore” dan “Menulis Tidore Untuk Indonesia”.

Kawasan Pelabuhan Rum, di Utara Tidore menjelang malam. Foto Sofyan Daud, 16 Januari 2017

Tidore Untuk Indonesia
“Tidore untuk Indonesia” bukan sekadar tema. Ia visi dan tekad mengembalikan Tidore kedalam pusaran orbit Indonesia, setidaknya Tidore patut mendapatkan tempat yang pantas. Ia juga semacam interupsi agar elit dan warga negara Indonesia berkhikmad mempelajari peran kesejarahan Tidore nan heroik dan kontributif bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tak usahlah mematut jejak sejarahnya yang terlampau panjang. Cukuplah dari sejak para sultan dan bobato (pemanggku adat) menyemai dan memupuk nasionalisme, heroisme rakyat yang dipimpin para sultan melawan imperialisme, menjadi penyokong aktif dan utama yang ikut mengantarkan NKRI ke gerbang kemerdekaan dan ikut pula mempertahankan kemerdekaan itu, hingga andil strategisnya dalam perjuangan Trikora untuk mengembalikan Papua kedalam wilayah kedaulatan NKRI.
Amati pula dengan saksama luasan teretori kekuasaannya yang mencapai 1/3 dari luas NKRI sekarang, yang menunjukkan betapa luasnya hamparan kebudayaan dan pengaruh sosio-kultural dan politik kesultanan ini, satu dari dua imperium besar di nusantara timur yang eksis secara formal sampai pada saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Sudilah pula mendalami tata nilai dan praktik kearifan dalam tradisi tua kesultanan ini yang spirit dan modelnya barangkali dapat diadopsi dan ditransformasikan memperkuat sendi-sendi kehidupan berbangsa bernegara.
Berikut, liriklah tinggalan sejarah dan kepurbakalaan, pesona alamnya serta kekhahasan dan keunikannya yang banyak.
Menulis Tidore, memang mesti dimulai dengan membaca Tidore. Itu yang dicontohkan oleh 94 Blogger dari pelbagai wilayah di Indonesia. Mereka membaca, mempelajari untuk kemudian menuangkan, menginterpretasikan pemahamannya akan Tidore kedalam tulisan-tulisannya yang dalam, indah dan informatif.
Hasil bacaan yang cermat terkespresi sedemikian lugas dalam tulisan-tulisan yang jernih dan detil, seakan mereka telah lama mengenali tanah tuah ini, sejarahnya, budaya dan tradisi, kuliner, hingga panorama alamnya. 

Indonesia Menulis Tidore
94 blogger dari pelbagai wilayah sungguh membaca dan menulis "Tidore untuk Indonesia". Setidaknya itu sedikit mewakili keingintahuan masyarakat Indonesia pada Tidore. Sebenarnya ini pintu masuk yang dapat dilalui oleh elit Indonesia sekarang untuk membaca dan menulis Tidore, bagian integral dari wilayah NKRI.
Tujuan terpenting elit Indonesia sekarang membaca dan menulis Tidore dan daerah lainnya di timur Indonesia merupakan upaya menghapus kesedihan akibat minimnya pengetahuan warga Indonesia di wilayah tengah dan barat terhadap wilayah kepulauan di timur Indonesia, yang luas subur dan kaya. Wilayah yang di masa lalu adalah pusat peradaban nusantara timur dan kemudian perlahan terdesak ke pinggiran. 
Wilayah yang sebenarnya amat strategis tetapi hanya fasih diperbincangkan saat membahas geopolitik dan geostrategis nasional. Atau saat negosisasi investasi petambangan, kelapa sawit, perikanan atau investasi sektor lainnya yang alih-alih untuk rakyat melainkan hanya untuk tujuan fee para pemburu rente.
Wilayah yang tak hanya dirudung kesenjangan dari segi sosial ekonomi dan pembangunan, tetapi juga kesenjangan keterkenalan, akibat rendahnya respek dalam ruang wacana dan diskursus nasional, akibat minimnya keberpihakan perencanaan strategis nasional terhadap kawasan ini, dan semakin diperparah oleh ketidakseimbangan interaksi antarwilayah di Indonesia. 
Torang sini kadara (kami di wilayah timur) lebih tersedot atau disedot oleh Dorang situ kalao (mereka di wilayah barat, Jakarta, pusat), sebelum dan sesudah kebijakan otonomi dan desentralisasi sekalipun.
       “Halo, Li, saya baru tiba. Kamu sedang di Ternate kan? Saya akan sempatkan diri main ke rumahmu”.  Ali, sebut saja begitu, dia ditelepon sahabatnya yang antusias bertemu, dan ingin main ke rumahnya.
      “Iya saya, sedang di Ternate. Kamu sedang ada proyek di Ternate, kah? Ali balik bertanya kepada sahabatnya.
      “Tidak, saya baru saja tiba di Kupang. Tak jauh kan dari kampungmu kan?” Ali, terdiam, tersenyum, menggeleng-geleng, miris...

Itu kisah nyata dan menyedihkan. Bayangkan, Ternate yang lebih terkenal, lebih ramai dan maju karena pusat jasa dan perdagangan Maluku Utara, ternyata masih samar bahkan tak jelas posisinya di ingatan sebagian warga negara Indonesia. Apalagi Tidore, Bacan, Jailolo, dan lainnya?
Masih banyak lagi kisah dan pengalaman serupa atau yang lebih miris. Itulah kesedihan yang tersedih, yang menggambarkan seolah anak-anak yang kurang tahu apa saja yang penting yang terdapat di dalam rumahnya.
Ironi memang, dari sekolah dengan kurikulum yang sama, anak-anak Indonesia di wilayah timur relatif lebih mengenali pahlawan-pahlawan, pulau-pulau, kota-kota, sungai-sungai, gunung-gunung, situs-situs di wilayah tengah dan barat Indonesia, sebaliknya anak-anak Indonesia di wilayah tengah dan barat relatif minim informasi dan pengetahuannya tentang Tidore, Ternate, Bacan, Jailolo. Keempat kesultanan dan pusat peradaban tua di nusatara timur, yang wilayah kekuasaan dan pengaruhnya mencakup Maluku, Maluku Utara, Raja Ampat dan Papua, sepanjang pesisir Sulawesi sampai Selayar, Nusa Tenggara, ke kepulauan Pasifik sampai Mindanao. Bahkan terdapat sumber yang menyebutnya lebih tua dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa.
Memang, rumah besar NKRI sangat besar dan luas. Isinya 17 ribuan pulau besar dan kecil, yang bernama dan belum sempat dikasih nama, dihubungkan oleh lautan dan selat; Karimata, Laut Jawa, laut Selawesi, Selat Makassar, Laut Maluku, Laut Banda, Laut dan Selat Halmahera, serta Laut Arafura.
Itulah mengapa pelajaran sejarah, budaya dan geografi Indonesia penting diajarkan secara baik di sekolah. Itulah mengapa untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, anak bangsa perlu diberi pelajaran dan pengetahuan bahkan doktrin tentang Wawasan Nusantara, artinya “Wawasan Laut-Pulau”, agar mengenali, memahami, merasa memiliki dengan bangga dan mencintai Indonesia yang luas, kaya, subur dan indah. Seperti sejak lama diingatkan pameo tua terkenal, “Tak kenal maka tak sayang”.
Generasi Tidore kini dan nanti berutang kebaikan dan kepedulian 94 blogger itu. Mereka yang membaca dan menulis “Tidore Untuk Indonesia”. Yang menujukkan cara mudah mengenal dan memperkenalkan khasanah Tidore, bagian integral dari NKRI.
Dengan tenggat waktu lomba yang singkat, tulisan-tulisan mereka membantu menjelaskan posisi Tidore di dalam wilayah NKRI, mengulas sejarahnya, mengangkat potensi dan khasanahnya yang amat bernilai bagi Indonesia, jika sekiranya dipedulikan secara pantas.
Terlebih lagi, mereka seakan mengingatkan elit Indonesia dan generasi Indonesia saat ini, bahwa wawasan nusantara dan kecerdasan teretorial-geografis ke-Indonesiaannya belum atau bahkan tidak pantas disebut baik jika tidak tahu persis seperti apa Pulau Tidore, satu di antara 1.474 di Maluku Utara, 747 pulau di antaranya bernama dan 727 pulau belum bernama.
Mengenal dan mengakui Tidore yang menyumbangkan 1/3 wilayah NKRI, meliputi di dalamnya sejarah, keragaman budaya, tradisi dan kearifan serta sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, adalah salah satu cara efektif memperbaiki keluasan dan kedalaman wawasan keindonesiaan.
Mengenal dan mengakui Tidore secara pantas dan patut, tentu tidak merugikan sama sekali bangsa Indonesia dan kepentingan strategis nasional. Tidak juga merugikan warga negara Indonesia manapun. Sebaliknya semakin memperkokoh Indonesia sebagai negara berdaulat pada banyak seginya, juga semakin memperkuat pemahaman ke-Indonesiaan warganegaranya.
Kaitan itu, kemajuan teknologi dan sarana informasi dari televisi, media tulisan, online, hingga sosial media, sedikit banyak mulai melepas sekat-sekat, keterkucilan atau bahkan pengucilan yang ada.
Nah, Tidore sejak dulu telah ada “untuk Indonesia”, bahkan jauh sebelum Indonesia ada, sebelum Indonesia  memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sekarang dan sampai nanti pun Tidore tetap ada untuk Indonesia.
Bagi Tidore, semua pulau di Indonesia penting, manusianya, sejarah dan khasanah budayanya, terutama penting kaitannya dengan keutuhan dan kedaulatan NKRI. 
Pertanyaan mendasarnya, seberapa pentingkah Tidore dan khasanahnya di mata elit Indonesia sekarang?
Pertanyaan ini tentu saja merepresentasi pertanyaan seluruh daerah dan pulau-pulau dalam wilayah Provinsi Maluku Utara bahkan lebih luas lagi. []

___________
Sofyan Daud
Ngofa Tidore, meminati sastra dan budaya,
Pimpinan Komunitas Garasi Genta,
Ketua Harian PD XXVIII KB. FKPPI Maluku Utara.